
kacang lablab merupakan tanaman polong-polongan dan dapat mengikat nitrogen di atmosfer, namun tetap mendapat manfaat dari pasokan nutrisi yang seimbang. (Sumber gambar representasional:AI dihasilkan)
Di seluruh ladang di India Selatan dan Tengah, orang sering dapat melihat tanaman merambat atau kacang lablab yang lebat, yang secara lokal disebut avarai atau sem. Tanaman ini, meskipun terlihat sederhana, mempunyai nilai yang sangat besar bagi rumah tangga petani. Berasal dari Afrika namun kini dinaturalisasi di daerah tropis, kacang lablab (Lablab purpureus L. ) telah menjadi pendamping terpercaya para petani karena bergizi, mudah tumbuh, dan cocok untuk tanaman campuran. Tanaman ini ditanam untuk diambil buahnya yang empuk, yang menjadi sayuran populer, dan juga untuk diambil bijinya yang matang, yang dipanen sebagai kacang-kacangan. Penggunaan ganda ini memberikan keunggulan dibandingkan banyak kacang-kacangan lainnya.
Di India, kacang dibudidayakan secara luas di negara-negara seperti Tamil Nadu, Andhra Pradesh, Karnataka, Madhya Pradesh, dan Maharashtra. Selama beberapa generasi, lahan ini telah menjadi bagian dari kebun pekarangan, ladang kecil, dan sistem tumpangsari, yang menawarkan ketahanan pangan dan nilai pasar. Bagi petani yang ingin melakukan diversifikasi, kacang lablab menonjol karena cocok dengan kondisi agroklimat yang berbeda dan memerlukan investasi yang relatif rendah.
Jenis dan Kultivar
Kacang lablab hadir dalam dua bentuk budidaya. Yang pertama, Lablab purpureus var. tipikus , merupakan jenis sayuran yang menghasilkan polong empuk yang dikonsumsi sebagai sayuran hijau. Yang kedua, Lablab purpureus var. lignosus , ditanam untuk diambil bijinya yang kering dan dikonsumsi sebagai pulsa. Kedua jenis ini kompatibel silang, yang berguna untuk pemuliaan dan peningkatan varietas.
Lembaga penelitian di India telah mengembangkan beberapa varietas unggul yang cocok untuk berbagai wilayah. Misalnya, IIHR, Bangalore telah memperkenalkan Arka Jay dan Arka Vijay, sementara IARI, New Delhi merilis Pusa Early Prolific dan Pusa Sem 2 dan 3. Universitas Pertanian Tamil Nadu telah mengembangkan keseluruhan seri dari CO 1 hingga CO 14, dan Universitas Ilmu Pertanian, Bangalore telah merilis Hebbal Avare 1, 3, dan 4. Masing-masing varietas dibiakkan untuk hasil yang lebih baik, ketahanan terhadap penyakit, atau kualitas polong, sehingga petani dapat memilih sesuai dengan pasar dan kondisi tanah.
Musim dan Metode Menabur
Waktu tanam lablab tergantung pada curah hujan dan wilayah. Di sebagian besar wilayah India, tanaman ini ditanam pada bulan Juli hingga Agustus saat musim hujan tiba, atau pada bulan September hingga November untuk tanaman beririgasi.
Untuk jenis yang lebat, tanah dibajak dan disiapkan hingga kemiringan yang halus, kemudian dibuat bedengan dan saluran. Benih ditumbuk dengan jarak tanam sekitar satu meter antar ragi atau sorgum bila digunakan sebagai tanaman sela. Untuk jenis tiang, yang sering ditanam di pekarangan belakang, petani menggali lubang berdiameter sekitar setengah meter, mengisinya dengan daun-daun membusuk dan kotoran sapi, lalu menaburkan tiga hingga empat benih. Punggung atas yang terbuat dari bambu atau tiang kayu memberikan dukungan untuk tanaman merambat.
Rata-rata, dibutuhkan 20 hingga 25 kilogram benih per hektar untuk penanaman murni. Benih biasanya diberi fungisida atau bahan biokontrol untuk mencegah penyakit yang ditularkan melalui tanah dan meningkatkan perkecambahan. Kultur Rhizobium sering digunakan untuk meningkatkan fiksasi nitrogen dan meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Pupuk dan Nutrisi Tanah
Meskipun kacang lablab merupakan tanaman polong-polongan dan dapat mengikat nitrogen di atmosfer, kacang lablab tetap mendapat manfaat dari pasokan nutrisi yang seimbang. Para petani menggunakan pupuk kandang sebanyak 12,5 ton per hektar untuk meningkatkan kesehatan tanah. Kebutuhan pupuk berbeda-beda pada kondisi tadah hujan dan irigasi. Tanaman tadah hujan memerlukan sekitar 12,5 kg nitrogen, 25 kg fosfor, 12,5 kg kalium, dan 10 kg sulfur per hektar, sedangkan tanaman irigasi membutuhkan dua kali lipat jumlah tersebut. Mikronutrien seperti seng sulfat juga berguna dalam kondisi irigasi.
Pengelolaan Gulma, Air, dan Tanaman
Gulma bersaing ketat pada tahap awal pertumbuhan. Petani sering menggunakan herbisida pra-tumbuh seperti pendimethalin yang diikuti dengan penyiangan dengan tangan sekitar 40 hingga 45 hari setelah tanam. Jika tidak ada bahan kimia, penyiangan dua kali dengan tangan tepat waktu sudah cukup.
Pengelolaan air sangat penting pada tahap pembungaan dan pembentukan polong. Irigasi segera setelah tanam, diikuti dengan irigasi yang menyelamatkan nyawa pada hari ketiga, menjamin pertumbuhan yang baik. Setelah itu, disarankan untuk menyiram setiap 7 hingga 10 hari tergantung pada jenis tanah dan iklim. Tanaman tidak boleh mengalami genangan air yang dapat merusak akar. Penyemprotan kalium klorida ke daun selama stres kelembapan dapat membantu pemulihan tanaman.
Tantangan Hama dan Penyakit
Seperti kacang-kacangan pada umumnya, kacang lablab menghadapi tekanan dari hama seperti kutu daun, penggerek polong, dan ulat pemakan daun. Diantara penyakit yang umum dijumpai adalah bercak daun Cercospora dan layu Rhizoctonia. Praktik pengelolaan hama terpadu, seperti perlakuan benih dengan agen biokontrol, pemantauan tepat waktu, dan penggunaan pestisida yang aman hanya jika diperlukan, merupakan strategi terbaik untuk produksi berkelanjutan.
Panen dan Hasil
Pemanenan tergantung pada tujuan budidaya. Untuk penggunaan sayuran, buah polong yang empuk dipetik setiap minggu untuk menjaga kualitas dan mendorong lebih banyak pembungaan. Untuk produksi palawija, petani menunggu hingga polong matang dan kering sebelum dipanen. Polongnya kemudian diirik, dan bijinya dibersihkan serta disimpan. Penanganan pascapanen yang tepat menjamin harga pasar yang lebih baik.
Kacang lablab lebih dari sekedar tanaman ladang, kacang lablab merupakan tanaman pendamping yang tangguh bagi keluarga petani, mampu menyediakan sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan perbaikan tanah. Dengan pengelolaan waktu tanam, pemupukan, pengairan, dan pengendalian hama yang cermat, petani dapat menikmati hasil panen yang baik dengan biaya input yang relatif rendah. Kemampuan beradaptasinya terhadap budidaya di halaman belakang dan pertanian skala besar menjadikannya pilihan serbaguna untuk memperkuat ketahanan pangan dan pendapatan rumah tangga pedesaan. Dengan memperhatikan peningkatan varietas dan praktik berkelanjutan, kacang lablab dapat tetap menjadi tanaman andalan untuk generasi mendatang.
Pertama kali diterbitkan pada:30 Agustus 2025, 09:58 IST
Uji Pengetahuan Anda pada Kuis Hari Cagar Biosfer Internasional. Ikuti kuis