
Biji chulli dan sisa kue press dapat digunakan sebagai pakan ternak atau diolah menjadi konsentrat protein. (Sumber gambar representasional:AI dihasilkan)
Jauh di lembah terpencil Himachal Pradesh, pohon yang kuat tumbuh secara alami di lereng berbatu dan lahan pertanian marginal. Pohon ini menghasilkan buah bulat kecil yang dikenal secara lokal sebagai Chulli. Berbeda dengan aprikot komersial yang manis, Chulli menawarkan rasa asam dan aromatik yang disukai penduduk setempat. Tumbuh liar dan bebas di daerah dengan ketinggian di atas 2.000 meter, bertahan hidup di musim dingin dan musim panas yang keras tanpa pupuk atau irigasi.
Para petani di wilayah ini telah lama memanfaatkan Chulli untuk konsumsi rumah, menjemur, dan membuat minuman tradisional. Kini, dengan kajian ilmiah dan nilai tambah, buah yang kurang dimanfaatkan ini menawarkan peluang baru untuk meningkatkan penghidupan sekaligus melindungi keanekaragaman hayati.
Menumbuhkan Chulli
Pohon Chulli adalah pemandangan yang familiar di antara teras batu dan petak berbatu yang tersebar di Kinnaur, Spiti, Lahaul, Chamba, dan zona dataran tinggi lainnya. Mereka tidak memerlukan masukan dan mekar secara alami saat musim dingin tiba di musim semi. Buahnya matang antara Mei dan Agustus tergantung ketinggian.
Pohon dewasa di alam liar dapat menghasilkan antara 35 dan 75 kilogram buah dalam satu musim yang baik. Karena merupakan spesies yang mandiri, penanamannya memerlukan sedikit perawatan. Petani yang tertarik pada agroforestri atau sistem kebun alami dapat membiarkan pohon-pohon yang dihasilkan secara alami tumbuh, memangkas untuk mendapatkan kualitas buah yang lebih baik, atau menanam pohon muda di dekat rumah agar lebih mudah dipanen.
Kegunaan Buah dan Nilai Tambah
Meskipun Chulli terlalu asam untuk dimakan mentah, itulah kekuatannya untuk diproses. Orang-orang membuat potongan dan bubur kertas yang dijemur, mencampurkannya dengan apel yang lebih manis atau aprikot yang dibudidayakan untuk membuat selai, chutney, batangan buah, dan minuman keras fermentasi tradisional. Percobaan menemukan bahwa menggabungkan 25 persen daging buah Chulli dengan 75 persen apel menghasilkan rasa dan warna selai terbaik.
Rasa asamnya, dipadukan dengan warna cerah, memberikan produk olahan rasa unik yang menarik minat perusahaan makanan pedesaan dan merek lokal yang sedang berkembang. Karena pemrosesan komersial masih terbatas, terdapat peluang besar bagi petani atau kelompok kecil untuk mengumpulkan, memproses, dan menjual produk-produk ini secara lokal dan regional.
Kernel dan Minyak
Setelah mengolah buahnya, petani seringkali hanya menyisakan batu aprikot. Cangkang kerasnya mengandung biji-bijian yang penuh dengan minyak berharga. Penelitian menunjukkan bahwa biji chulli mengandung lebih dari 45 persen minyak, hampir 28 persen protein, serta banyak serat dan mineral. Minyak ini kaya akan lemak tak jenuh, 62 hingga 70 persen asam oleat dan sekitar 20 hingga 27 persen asam linoleat—serta vitamin E dan karotenoid.
Indikator kualitas minyak seperti bilangan asam, bilangan peroksida, dan bilangan yodium berada dalam standar yang dapat diterima untuk minyak nabati. Minyak ini bisa dimakan, digunakan untuk memasak, menyalakan lampu, atau sebagai minyak pijat dan perawatan kulit. Komunitas lokal sudah memproduksi minyak Chulli yang diperas dingin, terkadang disebut “Gutti ka Tel” yang memiliki nilai eceran tinggi sebagai produk kesehatan atau kosmetik.
Manfaat bagi Petani
Bagi petani di daerah dataran tinggi, Chulli menawarkan banyak manfaat. Tanaman ini tidak memerlukan investasi tunai untuk menanamnya namun menghasilkan buah setiap tahunnya, yang dapat dijual segar ke pasar lokal atau diolah. Khasiat buahnya sebagai obat sebagai antidiare, antidemam, dan penghilang rasa haus membantu tradisi kesehatan setempat.
Biji dan sisa kue press dapat dijadikan pakan ternak atau diolah menjadi konsentrat protein. Minyak yang diekstraksi memberikan nilai pasar yang lebih tinggi, dan produsen lokal bahkan telah memperoleh status Indikasi Geografis (GI) untuk minyak Kinnauri Chulli. Dengan memanfaatkan buah dan biji, keluarga pedesaan dapat memperoleh pendapatan sekaligus melestarikan warisan agro-ekologi.
Tips Budidaya dan Peningkatannya
Jika petani ingin membudidayakan Chulli dengan sengaja, mereka dapat mengumpulkan anakan liar atau memangkas pohon dewasa untuk memperbaiki struktur cabang agar menghasilkan buah yang lebih baik. Penanaman di pagar tanaman, pekarangan rumah, atau dicampur dengan pohon-pohon hutan membantu dalam desain kebun yang berkelanjutan. Praktik sederhana seperti pemangkasan selektif, memanen dengan tangan pada tingkat kematangan yang tepat, dan pengeringan pada suhu rendah membantu menjaga kualitas buah.
Mengumpulkan benih dan menjemurnya sebelum ekstraksi minyak adalah langkah kuncinya. Ekstraksi minyak dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pengepres dingin skala kecil atau pabrik penggilingan desa. Kue tekan setelah minyak dapat dibuat kompos atau digunakan sebagai pakan ternak setelah mendetoksifikasi rasa pahitnya.
Tantangan dan Jalan ke Depan
Meskipun pohon Chulli tumbuh sendiri, penambahan nilai memerlukan koordinasi. Pengumpulan di medan terjal menimbulkan tantangan. Ekstraksi minyak memerlukan peralatan atau layanan yang sesuai. Produsen harus memastikan kadar sianida yang aman dalam biji melalui pengolahan yang tepat, karena biji Chulli mengandung amygdalin yang dapat melepaskan hidrogen sianida jika ditangani secara tidak benar. Diperlukan upaya untuk menciptakan kesadaran, melatih pemuda pedesaan dalam pengolahan skala kecil, dan menghubungkan ke pasar lokal. Dengan dukungan dari dewan adat, koperasi, atau layanan penyuluhan pertanian, produk berbasis Chulli dapat menjangkau basis konsumen yang lebih luas.
Chulli, aprikot liar Kinnaur dan Spiti, mewakili perpaduan tradisi, nutrisi, dan usaha pedesaan. Buahnya yang asam-manis, minyak inti yang bergizi, dan kemampuan beradaptasi ekologis menjadikannya tanaman yang menonjol bagi petani pegunungan.
Melalui pengolahan sederhana dan upaya kolektif, masyarakat pedesaan dapat mengubah buah-buahan liar menjadi barang yang menghasilkan pendapatan sekaligus melindungi lingkungan Himalaya yang rentan. Dengan menghargai Chulli tidak hanya sebagai makanan pokok setempat tetapi juga sebagai produk yang memiliki nilai pasar dan kesehatan, para petani dapat memelihara tanah dan mata pencaharian mereka.
Pertama kali diterbitkan pada:06 Agustus 2025, 11:17 IST
Uji Pengetahuan Anda pada Kuis Hari Cagar Biosfer Internasional. Ikuti kuis