Jamur dan tubuh buahnya, yang kita sebut jamur, menjadi fokus beberapa penelitian karena berpotensi memecahkan beberapa masalah produksi pangan dunia.
Semakin populer, jamur gourmet kaya akan senyawa bioaktif bermanfaat dan sumber protein, vitamin, dan serat makanan yang baik.
Namun bukan hanya jamur yang terbukti berharga. Inovator telah menghasilkan beberapa produk dengan menggunakan miselium jamur. Mulai dari pengganti daging, bahan bangunan dan tekstil hingga peti mati yang dapat terurai secara hayati.
Namun apakah jamur berkelanjutan?
Jawabannya adalah ya.
Jamur adalah organisme luar biasa yang memiliki banyak kegunaan ramah lingkungan, dan kami baru mulai menemukan potensinya.
Baca terus untuk mengetahui lebih lanjut tentang jamur dan jamur serta mengapa menanam jamur bersifat berkelanjutan dan dapat membantu memberi makan generasi mendatang.
Apa itu Jamur?
Jamur adalah tubuh buah (buah) dari jamur yang sering kali tersembunyi dari pandangan di bawah tanah atau di dalam tunggul dan batang kayu yang mati dan membusuk.
Jamur bukanlah tumbuhan atau hewan, meskipun kita cenderung menganggapnya sebagai sayuran, dan Anda sering menemukannya di bagian sayuran di toko bahan makanan.
Jamur tidak dapat menghasilkan makanannya sendiri seperti tumbuhan, dan seperti kita, jamur harus mendapatkan nutrisi yang dibutuhkannya dari lingkungan sekitar. Tapi mereka mencerna makanannya secara eksternal.
Jika dikategorikan berdasarkan cara memperoleh makanannya, terdapat 4 klasifikasi:saprotrof, mikoriza, parasit, dan endofit.
Jamur adalah organisme kompleks dan sering kali masuk ke dalam lebih dari satu kelompok atau berpindah dari satu kelompok ke kelompok berikutnya seiring para ilmuwan mempelajari lebih lanjut tentang jamur.
Sebagian besar jamur yang menghasilkan jamur gourmet yang dapat dimakan adalah saprotrof yang mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh dari bahan organik yang mati dan membusuk. Mereka memainkan peran penting dalam ekosistem sebagai pengurai primer dan sekunder.
Saat jamur mencerna atau menguraikan bahan organik di sekitarnya, sehingga menghasilkan partikel kecil yang dapat diserap, jamur menyediakan nutrisi bagi organisme lain dan memperbaiki kondisi tanah.
Apa yang Membuat Jamur Menjadi Tanaman Berkelanjutan?
Jamur adalah tanaman yang sangat baik bagi petani, baik di perkotaan maupun pedesaan, dan banyak faktor yang berkontribusi terhadap menjadikannya menguntungkan dan berkelanjutan.
Pada tahun 2017, dewan jamur menugaskan studi keberlanjutan yang menggunakan 30 peternakan jamur terbesar di Amerika Serikat.
Peternakan ini terutama berfokus pada produksi Agaricus bisporus, jamur kancing, cremini, atau portobello yang umum Anda temukan di toko bahan makanan di seluruh dunia.
Studi tersebut menegaskan bahwa jamur membutuhkan lebih sedikit air, energi, dan ruang untuk tumbuh dibandingkan tanaman lainnya. Namun ada beberapa faktor lain yang juga berkontribusi terhadap tanaman ini yang menguntungkan dan berkelanjutan untuk pertanian dengan skala apa pun.
Banyak orang yang mempertimbangkan untuk menanam jamur bertanya-tanya apakah budidaya jamur itu berkelanjutan dan bertanya, “Apa manfaat budidaya jamur?”
Untungnya, ada banyak informasi tersedia yang dengan jelas menunjukkan mengapa menanam jamur jauh lebih baik bagi lingkungan dibandingkan kebanyakan jenis pertanian lainnya.
Berikut adalah 8 alasan mengapa budidaya jamur bersifat berkelanjutan:
1. Membutuhkan Lebih Sedikit Air Dibandingkan Tanaman Lain
Dibutuhkan rata-rata 3,9 galon (15 liter) air untuk menghasilkan 2,2 pon (1kg) jamur kancing, cremini, atau portobello. Anda mungkin mengira jumlah air ini banyak, namun jumlah air yang dihasilkan jauh lebih sedikit dibandingkan tanaman dan produk makanan populer lainnya.
Para peneliti mengukur jejak air pada produk dan tanaman untuk membantu meningkatkan kesadaran dan mengurangi konsumsi air. Jejak air adalah jumlah air yang digunakan untuk menghasilkan tanaman atau produk.
Hal ini sering kali diukur di tempat tanaman ditanam dan memperhitungkan air yang digunakan di semua tahap produksi yang berbeda.
Saat jamur tumbuh, air ini biasanya digunakan untuk menghidrasi substrat, menjaga tingkat kelembapan di ruang buah, dan membersihkan peralatan.
Produk manufaktur biasanya memiliki jejak air yang lebih tinggi yang mencakup jejak air dari bahan mentah dan air yang digunakan untuk produksi, pengemasan, dan transportasi.
Berikut adalah beberapa angka dari Water Footprint Network untuk memberi Anda gambaran betapa sedikitnya penggunaan budidaya jamur air dibandingkan dengan sayuran lainnya. Dibutuhkan:
- 56,5 galon (214 liter) air untuk menghasilkan 2,2 pon (1 kg) tomat
- 62,6 galon (237 liter) air untuk menghasilkan 2,2 pon (1 kg) kubis
- 75,8 galon (287 liter) air untuk menghasilkan 2,2 pon (1 kg) kentang
- 93 galon (353 liter) air untuk menghasilkan 2,2 pon (1kg) mentimun
Dan jika menyangkut daging, perbedaannya sangat besar. Dibutuhkan:
- 1.142,5 galon (4.325 liter) air untuk menghasilkan 2,2 pon (1 kg) ayam
- 1581,9 galon (5988 liter) air untuk menghasilkan 2,2 pon (1 kg) daging babi
- 4072 galon (15415 liter) air untuk menghasilkan 2,2 pon (1 kg) daging sapi
Pelajari mengapa jamur merupakan tanaman yang berkelanjutan dan berdampak rendah.
2. Menggunakan Lebih Sedikit Energi
Petani menggunakan energi dalam setiap fase produksi tanaman, dan banyak tanaman memerlukan banyak energi untuk menanam, memelihara, dan memanen.
Pengecualiannya adalah jamur. Energi keseluruhan yang dibutuhkan untuk menanam jamur kancing mulai dari persiapan substrat hingga panen adalah 1kWh per 1 pon (0,45kg) jamur.
Untuk memberikan gambaran seberapa besar energi yang diperlukan, dengan energi 1kWh, Anda dapat menggunakan oven 3000 watt selama 20 menit, pemanas 1500 watt selama sekitar 40 menit, dan laptop 50 watt selama 20 jam.
3. Memiliki Emisi Karbon Rendah
Karena Anda memerlukan sedikit masukan untuk menanam jamur, jamur juga memiliki emisi karbon yang rendah.
Meskipun emisinya berbeda-beda, bergantung pada jenis jamur yang ditanam, metode dan substrat yang digunakan, serta sumber energi, misalnya listrik, bahan bakar fosil, atau tenaga surya.
Sebuah studi tentang produksi Agaricus bisporus di AS memperkirakan kisaran jejak karbon setara 2,13 hingga 2,95 kg CO2 per kilogram jamur yang diproduksi.
Dan studi lain tentang produksi jamur shiitake di Thailand pada tahun 2013 memperkirakan emisi setara 1,87 kg CO2 per kilogram jamur shiitake
Listrik dan bahan bakar fosil merupakan kontributor terbesar, dan peternakan jamur yang menggunakan tenaga surya atau bentuk energi ramah lingkungan lainnya akan menghasilkan emisi yang jauh lebih rendah.
Faktor lain yang memengaruhi tingkat emisi karbon adalah transportasi dan bahan substrat serta emisinya, terutama jika bahan tersebut dikomposkan atau difermentasi.
Grafik dari Our World in Data di bawah ini memberi Anda gambaran seberapa rendah emisi tersebut. Jamur akan ditempatkan di bagian bawah grafik antara tomat dan susu.
4. Membutuhkan Ruang Minimal
Saat menanam jamur di dalam ruangan, Anda dapat dengan mudah menumpuk tas, botol, atau wadah berisi substrat secara vertikal di rak, dan bahkan jika Anda menanam jamur di luar ruangan di atas kayu gelondongan, Anda dapat menumpuknya.
Studi keberlanjutan yang dilakukan oleh dewan jamur menemukan bahwa petani Agricarus bisporus menghasilkan rata-rata 7 lb (3,2 kg) per kaki persegi (0,09 meter persegi) per tahun.
Kami mendapatkan hasil yang jauh lebih tinggi dibandingkan budidaya jamur tiram kami, dan menghasilkan sekitar 25 lb (11 kg) per kaki persegi per tahun.
Perbedaan ini sebagian disebabkan karena jamur tiram memiliki hasil yang lebih tinggi dibandingkan jamur kancing, namun ukuran ruangnya mungkin juga berbeda.
Jika kami melihat angka dalam meter persegi, rata-rata kami memperoleh hasil 100 hingga 125 kg (220 hingga 275 pon) jamur per meter persegi (10,76 kaki persegi) per tahun.
Grafik data dunia di bawah ini menunjukkan berapa banyak lahan yang Anda butuhkan dalam meter persegi untuk menghasilkan satu kilogram makanan.
Jumlah jamur jauh lebih sedikit dibandingkan makanan apa pun pada grafik, dan bahkan pertanian dengan hasil rendah hanya membutuhkan 0,03 meter persegi lahan untuk menghasilkan satu kilogram jamur.
Berapa Banyak Ruang yang Anda Butuhkan untuk Menanam Jamur?
Calon petani jamur sering bertanya-tanya berapa banyak ruang yang mereka perlukan. Jawabannya beragam, tergantung pada jenis jamur, cara menanam, dan jumlah yang ingin diproduksi.
Kabar baiknya adalah Anda tidak memerlukan banyak ruang atau peralatan untuk mendirikan peternakan jamur berteknologi rendah dan memulai.
Saran kami adalah memulai dari yang kecil, memproduksi kurang dari 44 pon (20 kg) seminggu, dan ketika semua fase dan proses berjalan lancar, Anda dapat meningkatkannya.
Jika Anda menanam jamur tiram dan menghasilkan hasil seperti kami, Anda memerlukan ruang seluas sekitar 86 kaki persegi (8 meter persegi) untuk memanen 20 kg setiap minggunya.
5. Mendaur Ulang Produk Sampingan Pertanian
Jamur tumbuh di bahan organik yang mati dan membusuk, dan sebagian besar petani menggunakan produk sampingan atau limbah dari aktivitas pertanian lainnya untuk substrat jamur.
Dengan menggunakan produk sampingan pertanian sebagai substrat, petani jamur mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan oleh pertanian dan membantu ekosistem lokal.
Beberapa substrat jamur yang paling umum digunakan adalah serbuk gergaji kayu keras, sekam kedelai, jerami oat dan gandum, pupuk kandang, dan ampas kopi bekas. Namun ada banyak opsi yang tersedia.
Kami menyarankan agar petani jamur menggunakan bahan organik yang tidak terkontaminasi dan dapat diperoleh secara lokal secara konsisten.
6. Menghasilkan Sampah Minimal
Sebagian besar produsen jamur skala besar menanam jamur dalam wadah yang dapat digunakan kembali, sehingga satu-satunya produk sampingan dari produksi jamur adalah substrat bekas.
Umumnya, untuk setiap kilogram jamur yang dihasilkan, Anda akan memiliki sisa 5 hingga 6 kilogram substrat. Untungnya, substrat ini merupakan produk sampingan yang berguna dengan beberapa kegunaan dan tidak boleh terbuang percuma.
Berikut beberapa cara menggunakan substrat jamur bekas:
- Sebagai kompos untuk tanaman lain
- Untuk pembuatan kascing
- Sebagai mulsa di halaman rumput dan tempat tidur
- Sebagai bahan pembenah tanah untuk memperbaiki struktur tanah
- Sebagai bagian dari campuran pot
- Pakan untuk serangga, ikan, dan unggas
- Dicampur dengan produk lain untuk menghasilkan biogas
- Dicampur dengan bahan organik lainnya dan digunakan sebagai bahan casing
Para petani yang menggunakan kantong tanam jamur sekali pakai untuk menanam jamur menghasilkan sampah plastik yang tidak ramah lingkungan, namun ada alternatif lain yang tersedia.
Nanti di artikel ini, kita akan melihat beberapa cara mengurangi sampah plastik saat menanam jamur.
7. Menghasilkan Makanan Kaya Protein dengan Sumber Daya Rendah
Jamur adalah sumber makanan dengan hasil tinggi dan padat nutrisi, dan sebagian besar mengandung protein lengkap berkualitas tinggi dengan sembilan asam amino.
Hal ini menjadikannya fokus dari beberapa penelitian yang mengeksplorasi potensinya sebagai sumber protein berkelanjutan.
Makanan kaya protein lainnya, seperti daging dan produk susu, mengandung lebih banyak protein dibandingkan jamur namun membutuhkan lebih banyak sumber daya untuk memproduksinya per kilogram.
Misalnya, dibutuhkan 1142,5 galon (4325 liter) air untuk menghasilkan 2,2 pon (1kg) ayam, yang mengandung sekitar 310g protein.
Sebagai perbandingan, dibutuhkan 3,9 galon (15 liter) air untuk menghasilkan 2,2 pon (1kg) jamur tiram yang mengandung sekitar 33g protein.
Anda memerlukan 10 kg jamur tiram untuk mendapatkan jumlah protein yang sama, namun untuk menghasilkan 10 kg jamur hanya membutuhkan 39,6 galon (150 liter) air.
Jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan 1.142,5 galon (4.325 liter) air yang dibutuhkan untuk memproduksi 2,2 pon (1 kg) ayam.
Ini hanya mempertimbangkan jejak air. Jamur juga menggunakan lebih sedikit energi dan membutuhkan lebih sedikit ruang untuk berproduksi dibandingkan makanan kaya protein lainnya.
8. Memiliki Banyak Pasar Potensial
Jamur serbaguna dan memiliki banyak kegunaan berbeda, sehingga memberikan banyak pilihan dan pasar potensial bagi petani jamur.
Petani jamur dapat menjual jamur segar langsung ke restoran atau konsumen di pasar petani. Dan gunakan jamur yang kurang sempurna untuk membuat produk yang tahan lebih lama seperti jamur kering atau bubuk jamur, ekstrak dan tincture.
Ada juga berbagai macam bumbu jamur yang populer, termasuk jamur yang diasinkan atau diasinkan dan saus tomat. Petani bisa memproduksi bumbu sendiri atau menjual jamur kepada orang yang ingin membuat produk tersebut.
Tapi jamur bukan hanya sumber jamur gourmet dan obat. Bahan-bahan tersebut juga digunakan untuk memproduksi bahan bangunan dan insulasi yang ramah lingkungan, kemasan, tekstil, dan pengganti daging.
Karena jamur sangat serbaguna, hal ini memudahkan para petani jamur baru untuk menemukan ceruk yang menguntungkan di daerah mereka.
Temukan beberapa kegunaan mengesankan jamur dan miselium.
Alternatif Kantong Plastik Sekali Pakai untuk Budidaya Jamur
Banyak peternakan jamur menggunakan kantong plastik yang dapat diautoklaf untuk menanam jamur karena harganya yang murah dan dirancang untuk memudahkan budidaya jamur, namun hal ini menimbulkan masalah.
Kantong tanam jamur sekali pakai hanya digunakan dalam waktu singkat, tidak dapat terurai secara hayati, dan diproduksi menggunakan bahan bakar fosil. Mereka membuat budidaya jamur menjadi kurang ramah lingkungan.
Untungnya, ada beberapa alternatif yang bisa dipertimbangkan oleh petani, termasuk menanam jamur di –
- Tempat tidur jamur menggunakan nampan kayu, plastik, atau logam . Jamur kancing sering kali ditanam dengan cara ini, tetapi tidak memberikan hasil yang baik pada banyak spesies lainnya.
- Dapat digunakan kembali, botol plastik yang dapat diautoklaf . Metode ini sering digunakan di peternakan skala besar yang seluruh prosesnya sangat otomatis.
- Ember plastik . Ideal untuk petani jamur skala kecil yang ingin mengurangi jumlah sampah plastik yang mereka hasilkan.
- Monotub terbuat dari tas plastik. Ini cocok untuk petani jamur baru atau skala kecil.
- Kantong jamur kompos . Jika Anda menanam jamur dengan cara berteknologi rendah menggunakan teknik pasteurisasi air dingin, kantong 100% biodegradable yang terbuat dari pati, selulosa, dan minyak sayur adalah pilihan yang bagus.
Pelajari beberapa alternatif pengganti kantong plastik sekali pakai yang membuat pertumbuhan jamur lebih berkelanjutan.
Pemikiran Akhir
Jamur adalah salah satu tanaman yang paling ramah lingkungan untuk ditanam, dan banyak yang menganggapnya sebagai makanan fungsional karena memberikan banyak manfaat kesehatan.
Ada beberapa alasan bagus untuk memulai peternakan jamur. Dan Anda tidak memerlukan banyak uang, peralatan, atau ruang.
Untuk mempelajari cara mendirikan peternakan jamur berteknologi rendah, unduh eBook dan video gratis kami, atau coba salah satu kursus budidaya jamur kami.